Selasa, 22 November 2011

"PERANG SALIB"


PERANG SALIB
A.    Sebab Terjadinya Perang Salib
          Perang salib atau bisa disebut juga The Crusades War merupakan perang yang menyedihkan bagi umat muslim. Perang yang tidak peduli siapa pun yang dibunuh. Perang ini terjadi pada tahun 1096-1291, perang ini terjadi sebagai reaksi dunia Kristen terhadap dunia Islam yang berada di Asia sejak tahun 632 M.[1]  Pada sebuah artikel dikatakan bahwa perang salib bukan merupakan perang agama akan tetapi merupakan perang untuk memperebutkan daerah.[2] Pendapat tidak sepenuhnya salah karena memang pada salah satu faktor terjadinya perang salib tersebut adalah memperebutkan daerah kekuasaan. Akan tetapi faktor agama juga mempengaruhi.
          Perang salib awalnya disebabkan oleh adanya persaingan antara Islam dan Kristen. Penguasa Islam saat itu Alp Arslan melakukan gerakan ekspansi yang kemudian dikenal dengan “Peristiwa Manzikart” yang terjadi pada tahun 1071 M. Ekspansi ini menyebabkan orang-orang romawi terdesak. Peristiwa inilah yang menjadi benih tumbuhnya permusuhan dan kebencian orang-orang kristen.[3] Sedangkan menurut Karen Amstrong sebab utama yang memicu perang tersebut adalah pendudukan saljuk di syiria yang sebelumnya telah dikuasai oleh dinasti fatimiyyah pada tahun 1070 M.[4] Perang salib berlangsung 200 tahun lamanya, walaupun tidak selama masa penjajahan yang dialami Indonesia. Perang ini sangat merugikan. Tidak sedikit manusia yang menjadi korban. Orang-orang tidak bersalah, anak-anak kecil. Selain itu perang ini juga merusak hubungan antara dunia timur dan dunia barat. Diantara beberapa faktor penyebab terjadinya perang salib yakni:
1.  Faktor agama
            Hal ini disebabkan oleh pemerintahan dinasti saljuk yang sangat berbeda dengan penguasa muslim sebelumnnya. Sejak dinasti saljuk merebut Baitul Maqdis dari kekuasaan dinasti fatimiyah pada tahun 1070 M, pihak dari kaum Kristen merasa tidak nyaman lagi dalam beribadah, karena penguasa saljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah di Baitul Maqdis. Bahkan mereka juga memdapat perlakuan yang jelek dari orang-orang saljuk yang fanatik.[5] Orang-orang kristen yang baru pulang dari baitul maqdis banyak yang mengeluh dan kecewa dengan pemerintahan dinasti saljuk. Mereka selalu dipersulit dalam segala hal, bahkan untuk beribadah di tempat suci bagi mereka sendiri. Mereka yang merasa kecewa pun melaporkan hal tersebut, sehingga rasa benci sekaligus iri memicu permusuhan yang besar.
2.  Faktor politik
            Faktor politik ini dimulai dengan kekalahan bizantium dan juga atas jatuhnya asia kecil ke bawah kekuasaan saljuk yang mendorong kaisar Alexius I Comnenus meminta bantuan pada Paus Urbanus II (1035-1099). Paus Urbanus II bersedia membantu kaisar konstantinopel karena ada janji dari kaisar Alexius untuk tunduk di bawah kekuasaan paus di roma sehingga bisa mempersatukan gereja yunani dan roma. Pada saat itu memang paus memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar terhadap raja yang berada di bawah kekuasaannya.[6] Selain itu juga dikarenakan pada masa itu kondisi kekuasaan Islam sedang melemah sehingga orang-orang Kristen eropa berani untuk ikut dalam perang salib.
3.  Faktor social ekonomi
            Faktor social ekonomi ini muncul dari para pedagang besar yang berada di pantai timur laut tengah, terutama yang berada di kota Venezia, Ganoa, dan Pisa. Mereka berambisi untuk menguasai sejumlah kota dagang yang berada di sepanjang pantai timur dan selatan laut tengah, maka untuk ambisi itulah mereka bersedia menanggung dana yang digunakan untuk perang salib.  



B.     Periodesasi Perang Salib
          Pembagian terhadap terjadinya perang salib terdapat berbagai pendapat atau versi, menurut Philip K. Hitti perang salib terbagi menjadi tiga periode yakni:
a.  Periode penaklukan (1096-1144)
            Kerjasama antara kaisar Alexius dengan Paus Urbanus II berhasil mengangkat semangat umat Kristen untuk berperang melawan umat Islam. Hal ini terjadi akibat dari pidato yang dikemukakan oleh Paus Urbanus II. Isi dari pidato tersebut menyulut perang salib hingga perang itu pun terjadi pada 26 november 1095. Paus urbanus menyampaikan pidatonya di Clermont, bagian tenggara perancis. Ia memerintahkan umat Kristen untuk merebut makam suci dari umat Islam. Orang-orang yang hadir dan mendengarkan pidato paus pun meneriakkan slogan dues vult (tuhan memberkati).[7] Hal ini sebagai tanda bahwa mereka merelakan hidup mereka untuk berperang melawan umat Islam.
b.  Periode reaksi umat Islam (1144-1192)
            Serangan-serangan dari umat Kristen menyebabkan beberapa wilayah kekuasaan Islam jatuh ke dalam kekuasaan kaum salib. Melihat semua kejadian ini ternyata tidak membuat umat Islam kemudian menyerah dan menerima apa adanya kekalahan tersebut. Jatuhnya beberapa wilayah Islam ke tangan umat Kristen menjadi obat pembangkit semangat bagi umat Islam. Kaum muslim pun dengan segera mengumpulkan kekuatan untuk melawan kaum salib.
            Nama Imaduddin Zanki pun muncul sebagai panglima yang memimpin umat muslim untuk melawan. Imaduddin zanki ini merupakan seorang gubernur mosul. Perang ini membawakan hasil, mereka berhasil merebut kembali Aleppo dan Edesa (1144). Setelah imaduddin zanki wafat digantikan oleh putranya yang bernama Nuruddin Zanki. Di bawah kepemimpinan Nuruddin Zanki, umat Islam berhasil membebaskan damaskus (1147), Antiokhia (1149), dan mesir (1169).[8] Pasukan zanki ini sangat dihormati  karena imaduddin ini termasuk sosok prajurit yang apa adanya sebagaimana rakyatnya, ia sama sekali tidak menunjukkan keangkuhan. Sedangkan anaknya yang bernama nuruddin zanki memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Nuruddin berpembawaan lebih halus, diplomatik, dan saleh.[9]
            Kemenangan demi kemenangan terus dicapai oleh umat muslim terutama setelah munculnya Sholahudin Yusuf al-Ayyubi yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis pada 2 oktober 1187.[10] Sholahudin (saladin) dikirim oleh Nuruddin pada tahun 1163 M, ia merupakan keponakan salah satu jenderal tinggi nuruddin.[11] Kemenangan umat Islam ini menyebabkan kaum salib semakin berambisi untuk berperang, sehingga perang ini terlihat seperti hanya perang memperebutkan kekuasaan. Tapi bila dikaji lebih dalam tidak hanya sekedar itu saja, bermula dari merebut daerah-daerah, setelah dapat dikuasai maka tidak menutup kemungkinan kaum salib akan memaksakan paham yang mereka anut kepada orang-orang yang mereka kuasai.
            Kemudian Frederick I (barbarosa, kaisar jerman), Richard I (the lion hearted, raja inggris), dan Philip II (augustus, raja perancis) mengirimkan ekspedisi militer. Ekspedisi salib ini terbagi menjadi dua divisi, ada yang melalui darat sebagian lagi menempuh jalur laut.  Namun Frederick tewas ketika memimpin divisi darat tewas ketika menyeberangi sungai Armenia. Setelah terjadi pertempuran sengit terjadi pihak sholahudin dan pihak salib melakukan genjatan senjata dan membuat perjanjian. Isi dari perjanjian itu adalah daerah pedalamn akan menjadi milik kaum muslimin dan umat Kristen yang hendak berziarah ke baitul maqdis akan dijamin keamanannya. Sedangkan untuk daerah pesisir utara, arce, dan jaita berada di bawah kekuasaan tentara salib.[12]


c.  Periode perang saudara kecil-kecilan (1192-1291)
            Periode ini juga bisa disebut sebagai periode kehancuran dalam pasukan salib. Disebut demikian karena pada masa ini pasukan salib sangat berambisi untuk mendapatkan kekuasaan dan sesuatu yang bersifat materi daripada motivasi agama. Tujuan utama mereka untuk membebaskan baitul maqdis seolah-olah mereka lupakan. Mereka merebut konstantinopel dan mendudukinya lalu dikuasai oleh Baldwin sebagai rajanya. Baldwin ini merupakan raja roma-latin pertama yang berkuasa di konstantinopel.[13]
            Namun pembagian-pembagian seperti itu tidak mutlak. Dapat dikembangkan kembali tentang pembagian tersebut, misalnya :
a.       Periode penaklukan: yang dilakukan oleh kaisar alexius dan paus urbanus II.
b.      Periode imaduddin zanki: saat umat Islam berhasil merebut kembali Aleppo dan edesa.
c.       Periode nuruddin zanki: saat umat Islam berhasil merebut damaskus, Anatolia,dan mesir.
d.      Periode salahudin yusuf al-ayyubi: berhasil merebut baitul maqdis dan memerintahnya dalam kurun waktu yang lama.
e.       Periode perang kecil-kecilan.
      Dalam perkataan seorang ahli sejarah: “mereka membunuh semua orang orang saracen dan turki yang mereka temui....pria maupun wanita”.[14] Salah satu dari pemimpin tentara salib, Raymond bangga dengan kekejaman ini:
Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Sebagian prajurit kami (ini tindakan yang paling ringan) memenggal kepala musuh-musuh mereka. Lainnya menembaki dengan panah sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara, lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkan mereka ke dalam api. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota, sehingga kami harus berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Ini belum seberapa jika dibandingkan apa yang terjadi di biara sulaiman, tempat di mana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Disana, para pria yang berdarah-darah disuruh berlutut dengan leher terbelenggu.[15]

C.    Akibat yang ditimbulkan perang salib
          Setiap peristiwa yang terjadi pasti memiliki dampak yang bersifat baik ataupun yang bersifat buruk. Termasuk pula perang salib tersebut juga memiliki dampak. Perang salib menimbulkan beberapa akibat yang penting dalam sejarah dunia terutama untuk dunia eropa. Pengetahuan orang-orang timur yang selalu mengalami peningkatandan maju member daya dorong besar pagi pertumbuhan itelektual eropa barat. Selain itu adanya perang salib juga menambah lapangan perdagangan, mempelajari kesenian, dan penemuan-penemuan penting dan sebagainya dari orang Islam. Dampak negative yang diperoleh kaum salib tidak sebanyak dampak positif yang didapatkannya. Sedangkan untuk umat muslim justru kebalikan dari mereka , banyak kerugian yang didapat. Dari segi perdagangan, jalur perdagangan dikuasai oleh orang-orang eropa. Dari segi pengetahuan pun banyak penemuan-penemuan yang di akui oleh orang-orang barat padahal itu adalah murni milik orang-orang Islam.
          Perang salib yang terjadi tersebut sangat mengerikan. Umat muslim bukan satu-satunya sasaran dari pasukan salib, akan tetapi orang-orang kristen dan yahudi lokal juga menjadi sasaran mereka. Dalam buku akbar S. Ahmed terdapat fakta tentang kejadian yang dialami di gereja istambul. Pasukan salib ini memperkosa wanita-wanita, minum-minuman, dan menelanjangi orang-orang gereja tersebut.[16] Tidak hanya itu dalam buku tamim ansary mengatakan tentara-tentara salib mengamuk secara menakutkan, bahkan mereka sampai merebus orang muslim dewasa untuk sup dan menusuk anak-anak muslim menjadi sate, memanggang mereka di atas perapian, dan kemudian memakan mereka. Kejadian ini berdasarkan laporan-laporan tentang kanibalisme tentara salib dari kaum salib sendiri dan sumber-sumber arab. Saksi mata frank radulph caen misalnya, melaporkan tentang perebusan dan pemanggangan tersebut.[17] Perang ini menunjukkan pada kita tentang kekejaman mereka yang menuduh bahwa dan  Islam kejam, suka membunuh, dan sebagainya, padahal mereka sendiri jauh lebih kejam dan tidak punya rasa peri kemanusiaan sedikit pun. Seakan-akan mereka menganggap manusia layaknya hewan buruan yang ada di hutan liar, yang bebas mereka ambil nyawanya, memakannya atau membuangnya. Mereka lebih tidak berperadaban dibanding kaum barbar.





















KESIMPULAN
            Kesimpulan yang dapat ditarik dari penjelasan di atas bahwa perang salib  ( the crusades war ) terjadi akibat dari beberapa faktor, yaitu :
a.       Kemunculan islam yang cepat sehingga menimbulkan kekacauan dan sakit hati orang-orang Kristen
b.      Pelaksanaan ziarah yang dilakukan orang-orang Kristen ke Jerussalem terganggu
c.       Kekacauan feodalisme di eropa diantaranya perbutan kekuasaan dan system politik yang amburadul
d.      Jalur perdagangan international saat itu dikuasai umat islam
e.       Ambisi paus urbanus II untuk menyatukan Kristen roma dan yunani, serta ingin memperluas wilayah kekuasaan atau wilayah dominasi
f.       Keterkaitan pembebasan atau penebusan dosa
            Sedangkan untuk periodesasinya selain yang terdapat pada pembahasan ada juga periodesasi yang dibuat oleh K.Ali yang berdasarkan gelombang datangnya pasukan salib dari eropa, yakni:
1.      Perang salib I (1095 M) → pasukan salib berhasil menaklukan Jerussalem
2.      Perang salib II (1147-1149 M) → Kristen kalah, bermunculan tokoh-tokoh islam seperti sholahuddin,imaduddin dan nuruddin
3.      perang salib III (1189-1192 M) → islam dapat dikalahkan
4.      perang salib IV (1195-1200 M) → Kristen berhasil merebut cicilia dan Beirut namun kemudian kalah
5.      perang salib V (1201 M) → tentara salib berhasil menguasai konstantinopel
6.      perang salib VI (1216 M) → tentara salib dikalahkan oleh islam
7.      perang salib VII (1238 M) → Kristen merebut kembali Jerussalem namun gagal
8.      perang salib VIII (1244 M) → Kristen mengalami kekalahan

akibat yang ditimbulkan perang salib bagi eropa atau umat Kristen:
1.      pertumbuhan intelektual (renaissance)
2.      pertumbuhan perniagaan
3.      petumbuhan bidang industry, pertanian, dan teknik perang
akibat yang ditimbulkan perang salib bagi umat Islam:
1.      muncul semangat jihad
2.      muncul rasa persatuan
3.      hancurnya sarana-prasarana islam
4.      semangat untuk melakukan penemuan-penemuan terutama bidang ilmu pengetahuan berhenti


[1] Dedi Supriyadi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2008. Hlm.171.
[2] www.wikipedia.com . 12/03/2011
[3] Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. 2009. Hlm.231
[4] Ibid. Hlm. 234.
[5] Ibid. Hlm.235.
[6] Ibid.,
[7] Dedi supriyadi. Sejarah peradaban Islam. Hal. 171-172.
[8] Ibid. hlm.173.
[9] Tamim ansary. Dari puncak bagdad. Jakarta: zaman. 2010. Hlm. 241-242.
[10] Supriyadi. Sejarah peradaban Islam. Hlm. 173.
[11] Ansary. Dari puncak bagdad. Hlm. 242.
[12] Ibid. hlm. 174.
[13] Samsul munir amin. Sejarah peradaban Islam. Hlm. 237.
[14] Gesta Francorum, or the deeds of the Franks and the Other Pilgrims to Jerusalem, Trans. Rosallind Hill, (london:1962), hlm.91, dalam harun yahya. Palestina Zionisme Dan Terorisme Israel. Bandung: dzikra. Hlm. 33.
[15] August C. Krey, the first crusade: the account of eye witnesses and participant.(princenton & london: 1921),hlm. 261, dalam harun yahya. Hlm.34.
[16] Efe 1978:18 dalam Akbar S. Ahmed. Rekonstruksi Sejarah Islam. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
[17] Ansary. Dari puncak bagdad. Hlm. 234.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar