Selasa, 22 November 2011

“ARSITEKTUR MASJID SUNAN AMPEL SURABAYA”


“ARSITEKTUR MASJID SUNAN AMPEL SURABAYA”
A.      Sejarah Pembangunan Masjid Sunan Ampel
Masjid Ampel dibangun oleh Raden Rahmatullah atau Raden Rahmat yang terkenal dengan sebutan Sunan Ampel. Kompleks masjid ini dibangun Sunan Ampel setelah mendirikan masjid dan pesantren di Kembang Kuning dan telah mendapat izin dari raja Majapahit untuk tinggal dan berdakwah di Surabaya. Masjid Ampel dibangun sekitar tahun 1450 M, ada juga yang berpendapat pada tahun 1421 M, namun hingga kini masjid ini sudah mengalami beberapa perluasan.
Perluasan pertama, dilakukan oleh Adipati Aryo Cokro Negoro C dengan menambah bangunan disebelah utara bangunan lama. Perluasan kedua, dilakukan oleh Adipati Regent Raden Aryo Niti Adiningrat pada tahun 1926 M yang menambah dan memperluas kebagian utara lagi, perluasan itu mendapatkan dukungan dari masyarakat saat itu. Perluasan ketiga, dilakukan setelah masa kemerdekaan yang diselenggarakan panitia khusus perluasan masjid Sunan Ampel  pada tanggal 30 Agustus 1954 sampai tanggal 21 Febuari 1958, dengan perluasan sebelah utara lagi dan sebelah barat. Perluasan keempat, dilakukan pada tahun 1974 dengan memperluas lagi kebagian barat. Dengan demikian bangunan yang semula luasnya sekitar 2.069 m2 itu kini menjadi 4.780 m2.
B.       Perletakan Masjid Sunan Ampel
Masjid Ampel berada di Ampel Denta yang kini berada di daerah Surabaya utara, sampai sekarang terkenal dengan nama Ampel. Daerah ini dulunya merupakan daerah pinggiran kali Surabaya (Brantas) yaitu jalur lalu lintas ke pusat kerajaan Majapahit, tempat ini sangat stategis karena terletak di daerah pintu masuk utama kerajaan Majapahit. Ketika kita masuk gang menuju Ampel, dari jauh sudah terlihat tegak menjulang tinggi menara masjid yang terletak tepat di sumbu gang, dan di belakang pintu gerbang yang mirip Kori Agung pada bangunan Hindu Bali. Pada bagian sebelah barat kompleks masjid terdapat kompleks makam Sunan Ampel dan pengikutnya.
Sekitar masjid Ampel, kini telah dipenuhi dengan banyak bangunan, bangunan yang paling dominan adalah bangunan masjid yang telah dipugar selama empat kali. Pada bagian timur laut dan tenggara terdapat bangunan untuk bersuci (tempat wudhu) yang denahnya berbentuk bulatdan atapnya berbentuk segi delapan beraturan sedangkan pada tenggara masjid terdapat bangunan musholla khusus untuk para wanita dan terdapat sebuah bangunan untuk kegiatan administrasi takmir masjid.
C.      Jenis dan Bentuk Bangunan Masjid Sunan Ampel
Bangunan masjid awal, luasnya sekitar 2.069 m2 merupakan bangunan tajug tumpang dua dengan kontruksi kayu dan beratap genteng. Dalam bangunan induk juga terdapat bangunan menara yang menjulang tinggi ketas dan puncaknya terdapat kontruksi atap berbentuk payung. Di sekeliling bangunan induk ini terdapat bangunan serambi yang menurut keterangan, merupakan bangunan perluasan pertama kali. Bangunan ini berbentuk limasan klabang nyander dengan penutup atap dari genteng. Bangunan perluasan yang paling utara menggunakan kontruksi kuda-kuda baja dengan penutup atap dari genteng sedangkan perluasan bagian barat beratap datar dan terdiri dari kontruksi beton bertulang.
Banguna awal bertupang dua, sedangkan bangunan masjid yang lain di zaman para wali di Jawa biasanya bertupang tiga atau lima. Dengan demikian terdapat dua kemungkinan. Pertama, mungkin memang tumpang dua dengan maksud untuk mereduksi persamaan dengan bangunan suci kaum Hindu yang sealu bertumpang ganjil. Kedua, mungkin dulunya memang tumpang tiga, yakni bangunan serambi merupakan tumpang yang ketiga dan bukan beratap bentuk limasan. Ruang untuk pertemuan dan ruang untuk wanita merupakan sebuah bangunan bertingkat dari beton bertulang dan terletak di sebelah tenggara bangunan masjid secara terpisah. Demikian pula kantor ta’mir masjid berada di luar bangunan masjid.


D.    Progam Ruang dan Interior Masjid Sunan Ampel
Kompleks masjid ini mempunyai progam ruang sebagai berikut:
1)      Ruang liwan dan serambi ......................... 4.700 m2
2)      Musholla muslimat ...................................    130 m2
3)      Ruang istirahat imam ................................      25 m2
4)      Ruang pertemuan ......................................     218 m2
5)      Kantor ta’mir masjid ................................        23 m2
6)      Ruang juru kunci makam .........................        12 m2
7)      Ruang unit radio pemancar ......................         25 m2
8)      Ruang muadzin ........................................           6 m2
9)      Mimbar dan mihrab .................................          10 m2
Semua interior pada banguna awal masjid memang terasa adanya kesan agung, dengan skala vertikal yang memegang peranan, sehingga penerangan dan ventilasi alami dari setiap tumpang dapat dimanfaatkan. Namun ditinjau secara keseluruhan bangunan masjid ini maka ruang liwan yang memiliki fungsi yang sama kini terbagi menjadi beberapa pola dan dengan modul yang berbeda serta sistem struktur yang berbeda pula. Dengan demikian maka kesatuan ruang menjadi hambar. Dari bidang ragam rias tidak begitu menonjol, kecuali ruang mihrab yang dindingnya dilapis porselin biru berukuran 11 cm x 11cm dan mempunyai ukuran 3,65 m x 2,55 m2. Dan didalam ruangan itu terdapat mimbar berbentuk mirip singgasana terbuat dari kayu yang diukir indah berwarna keemasan.
E.       Kiblat dan Suasana Masjid Sunan Ampel
Walaupun banyak mengalami perluasan, namun arah kiblat cukup jelas. Dilihat dari kesamaan maka ruang dalamnya tidak dapat mendorongnya, karena keadaan langit-langit yang berbeda bentuknya, ketinggiannya, modul yang berbeda, struktur yang berbeda serta bahannya yang berbeda pula. Dinding-dinding pemikul di dalam ruangan ikut pula membantu menghambarkan kesatuan ruang dalam yang berfungsi sama.
Sebelum terjadi perluasan, mungkin suasana dalamnya cukup kompak, namun setelah terjadi beberapa pugaran yang tidak terencana dengan sempurna, maka suasananya menjadi hambar. Pengurangan dan penggantian dinding pemikul di tengah-tengah ruang mungkin dapat membantu mengompakkan suasana ruangan ini. Penerangan ruang dalam memadai, karena semua dinding memiliki pintu yang banyak, masing-masing dengan pembukaan dua daun sedangkan atasnya terdapat penerangan jendela atas lengkap dengan tralis berornamen. Pada bangunan awal penerangan juga diperoleh dari jendela atas yang terletak diantara atap tumpang.
Sedangkan dengan bangunan barat yang beratap datar itu penerangan alami cukup memadai, karena sepanjang dinding barat ini terdapat dua pintu yang amat membantu penerangan namun dapat mengurangi suasana kekhususan rauang dalam. Demikian pula pembukaan pintu kearah barat, membuat para jama’ah yang solat ashar silau. Penghawaan masjid baik juga, karena banyak permukaan dan merata keseluruh dinding ruangan. Bahkan dibanguna awal masih terdapat pembukaan atas yang terdapat diantara atap tumpang. Jadi dalam ruangan masjid ini terdapat penghawaan alami silang yang cukup baik. Bahkan diruang bagian barat yang beratap datar itu masih terdapat beberapa kipas angin listrik yang dipasang di langit-langit yang ikut membantu pengaliran udara terutama pada saat angin tidak berhembus. Pengaturan suara juga cukup baik, karena dengan pembukaan dinding yang amat banyak maka gema akan dihindari.
F.       Arsitektur Bangunan Sekeliling Masjid Sunan Ampel
Masjid Sunan Ampel secara khas mengadaptasikan nilai-nilai Islam ke dalam arsitektur Jawa. Gapuro (pintu gerbang), misalnya, yang konon berasal dari kata Arab ghafura yang berarti ampunan, dibangun di area masjid untuk mengingatkan setiap Muslim agar memohon ampunan sebelum memasuki kawasan suci dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lima gapura yang ada di sekelilingnya merefleksikan inti ajaran agama Islam. Bilangan lima menyimbolkan jumlah rukun Islam.
 Di sebelah selatan adalah gapura pertama yang bernama Gapuro Munggah. Munggah berarti naik. Dinamakan demikian karena gapura ini menyimbolkan rukun Islam yang kelima, yaitu haji. Dalam tradisi Jawa, orang yang naik haji dikatakan munggah kaji. Masih di sebelah selatan masjid, terdapat gapura kedua yang bernama Gapuro Poso (puasa). Gapura ini secara implisit mengajarkan umat Muslim menunaikan puasa, baik yang wajib maupun sunnah. Ada juga, Gapura Ngamal (beramal) yang menyimbolkan pentingnya beramal bagi umat Islam untuk membantu sesama Muslim yang membutuhkan. Di sebelah barat masjid terdapat Gapuro Madep. Madep berarti menghadap, yaitu menghadap ke arah kiblat ketika mendirikan shalat. Gapura yang terakhir adalah Gapuro Paneksan (kesaksian), yang berarti kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Cukup menarik apabila melihat posisi masjid di tengah lima gapura, sebagai pusat ibadah serta simbol kesucian, tempat umat Muslim menyembah, memuji, menyucikan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Kelima gapura yang mengelilingi masjid menegaskan bahwa umat Muslim haruslah melaksanakan rukun Islam Secara sempurna untuk dapat mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar