Powered By Blogger

Senin, 09 Januari 2012


“Khazanah Sejarah Mengokohkan Jati Diri Bangsa yang Humanis”
Oleh: M. Rahmatullah
öÝàZtFø9ur Ó§øÿtR $¨B ôMtB£‰s% 7‰tóÏ9
Hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
( Q.S. Al Hasyr: 18)

Kebesaran Nusantara sebagai bangsa tidak serta merta muncul seperti yang kita lihat saat ini, yakni melalui sejarah panjang yang ditempuh para leluhur. Sejarah yang menunjukkan akan cintanya kepada bangsa yang damai, aman dan sejahtera. Nampaknya belakangan ini kita dikejutkan dengan kejadian-kejadian yang sama sekali tidak manusiawi, atas nama Agama, idiologi, suku dan sebagainya. Sudah dapat dipastikan kurangnya menyelami arti sejarah membuat bangsa ini kerdil, serta memahami arti kebangsaan secara parsial. Tanpa kesadaran sejarah ini. Ke-Indonesia-an kita hanyalah merupakan wadah yang hampa, jika tidak hati-hati, ke-Indonesia-an kita dapat hancur berantakan, karena kelalaian dan kelengahan kita sendiri.
Mereka yang tidak mengambil pengalaman sejarah, akan dipaksa untuk mengulangi kekeliruan-kekeliruan masa lalu, dengan harga yang sangat tinggi. Karena itu. kita harus banyak mengenal sejarah. Dari perspektif sejarah ini. kita harus sadar bahwa apa yang kita capai sekarang, sebenarnya merupakan puncak dari perjuangan panjang dalam membangun persatuan. Kita dapat menelusuri tekad bersatu, misalnya dari Sumpah Palapa, oleh Maha Patih Gajah Mada, hampir 700 ratus tahun yang lalu, perjuangannya untuk mewujudkan persatuan Nusantara bukanlah usaha yang mudah. Jangan kita lupakan bahwa yang dinamakan suatu bangsa atau nation itu bersandar pada kesatuan tekad untuk hidup sebagai bangsa, kepada persamaan sejarah dan nasib, kepada perasaan bersatu bahwa kita merupakan suatu ikatan, keluarga besar bangsa. Tekad adalah pendorong atau daya juang yang memberi motivasi, dan melandasi pemikiran, sikap dan perilaku masyarakat.
A.      Khazanah Sejarah Bangsa
Sebagai suatu bangsa tentunya kita dituntut mengerti siapa kita sebenarnya, konon kita bukan penduduk asli Nusantara, yakni pendatang. Menurut penelitian arkeologi dan ilmu genetika penghuni Nusantara ini berasal dari rumpun Austronesia[1], terlepas dari kebenaran penelitian tersebut kemudian mereka mengelompok menjadi masyarakat-masyarakat kecil yang pada puncaknya mereka mendirikan suatu kerajaan sebagai perwujudan dari persatuan dan tekad yang dimiliki bersama. Masih timbul pertanyaan, apakah kerajaan-kerajaan awal Nusantara adalah Hindu-Budha ataukah sudah ada kerajaan yang beragama nenek moyang ( Animisme-dinamisme ). Namun berdasarkan sumber-sumber sejarah yang telah mapan, kerajaan-kerajaan Hindu-Budha lah yang mengawali kerajaan Nusantara, yakni kerajaan Kutai, disusul oleh kerajaan Tarumanegara, Kalingga, Mataram Hindu, Sriwijaya, dan diakhiri dengan kerajaan Pajajaran dan Majapahit. Dilanjutkan kerajaan-kerajaan Islam, masa kolonial Eropa, baik portugis ataupun sampai Belanda, masa Jepang, kemerdekaan hingga sekarang menjadi Negara berdaulat dengan tanpa penjajahan yaitu “NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA”.
Meminjam perkataan Ernest[2], bahwa Bangsa adalah sekelompok manusia yang punya kehendak untuk bersatu karena mempunyai nasib dan penderitaan yang sama pada masa lampau dan mereka mempunyai cita-cita yang sama tentang masa depannya. Sebagai suatu bangsa, secara tidak langsung Nusantara telah memproklamirkan diri sejak Kutai berdiri, namun dalam rangka mengibarkan semangat nasionalisme sebagai warga negara sepertinya belum nampak. Kesadaran masyarakat terhadap nasionalisme berbangsa dan bernegara baru kelihatan pada masa kejayaan kerajaan Sriwijaya. Sebagai Negara merdeka, ia memegang kekuasaan Negara dan berusaha menciptakan rasa aman terhadap rakyat serta memberikan kesejahteran kepadanya. Kemudian mereka selalu membendung bahaya serangan yang mengancam Negaranya, baik penguasa maupun masyarakat demi  kebesaran Negara.
Sekitar abad ke-13, disusul dengan semangat persatuan Sang Maha Patih Gajah Mada dengan Amukti Palapa yang menggemparkan, bisa kita bayangkan kalimat yang tertera dalam sumpah itu bukanlah tugas yang semudah membalikkan telapak tangan, jika tanpa semangat nasionalisme yang tinggi, bisa dipastikan ia gagal dalam melaksanakannya. Sumpah itu selengkapnya berbunyi demikian:
Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ing Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa[3]
Sepertinya tidak muluk-muluk jika Amukti Palapa atau Gajah mada sendiri disebut sebagai peletak pertama konsep kesatuan Nusantara. Usaha memperluas wilayah itupun merupakan salah satu manifestasi semangat nasionalisme yang melanggar kedaulatan negara lain. Karena pada dasarnya perjuangan ini ditujukan untuk keagungan Majapahit.[4]
Semangat nasionalisme yang sangat mengakar tersebut menjadi luntur diabad-abad selanjutnya, yakni pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I. Dengan memihak kepada kolonial Belanda serta memusuhi Islam yang pada puncaknya kerajaan terpecah menjadi dua yaitu Yogyakarta dan Surakarta.[5] Pudarnya semangat nasionalisme pada kerajaan Mataram ini juga yang diduga akar dari kolonialme Belanda, yang dimulai dengan perjajian Jepara[6] antara Amangkurat II dan Cornelus Speelman (militer Belanda). Klimaks dari kejadian ini adalah penarikan beaya oleh Belanda langsung kepada rakyat ketika pemerintahan Pakubuwono II atas bantuannya dalam menumpas pemberontakan China.
Setelah sekian lama Nusantara diinjak-injak oleh kolonialisme, keinginan merdeka dan semangat kebangsaan Nusantara bangkit kembali. Kesadaran nasional ini ditandai dengan munculnya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, namun hal ini dibantah oleh Ahmad Mansur Suryanegara, ia menuturkan bahwa kebangkitan kesadaran nasional sudah dimulai 3 tahun sebelumnya oleh H.Samanhudi dengan mendirikan Serikat dagang Islam ( SDI ).[7] Terlepas dari kebenaran dan perdebatan sejarawan siapa yang menjadi pelopor pengibar semangat nasionalisme ini, semangat nasionalisme untuk merdekapun semakin tumbuh subur, hal ini terbukti dengan semangat pemuda yang bersumpah atas nama bangsa Indonesia yaitu Sumpah Pemuda, tepat pada 28 Oktober 1928 M. Sejak itulah muncullah tokoh-tokoh bangsa yang dikemudian hari membawa Indonesia merdeka, seperti: M. Yamin, M. Hatta, Sutan Syahrir, Soekarno dan sebagainya. Dari semangat kebangsaan para pemuda inilah pada klimaksnya bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya tepat pada 17 Agustus 1945.
B.       Sejarah Sebagai Modal Pembentuk Jati Diri Bangsa
Tentunya kita masih ingat kata-kata yang dilontarkan prokamator Soekarno “JASMERAH: Jangan Lupakan Sejarah”. Kata tersebut mengindikasikan bahwa sebagai suatu bangsa, kita memang tidak bisa lepas dari sejarah bangsa itu sendiri. Sebagaimana telah ditulis diatas bahwa bangsa yang lupa sejarahnya akan terombang ambing karena tidak mempunyai dasar untuk melangkah serta tidak mempunyai pandangan kedepan untuk menentukan arah hidup berbangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa Indonesia adalah kumpulan masyarakat yang bermacam-macam, baik dari segi Agama, Suku, budaya, bahasa dan lain-lain. Maka Soekarno memilih falsafah Jawa dari kitab Sotasoma yaitu “Bhineka Tunggal Ika” sekaligus sebagai motto persatuan bangsa Indonesia. Kata itu berarti : “berbeda-beda namun hakekatnya satu”. Ini artinya, bahwa sejak dahulu nasionalisme dari keberagaman sudah menjadi jiwa serta semangat bangsa negeri ini.
Dengan motto persatuan bangsa yang dintarkan Bhineka Tunggal Ika sampai sekarang kita tetaplah menjadi bangsa yang besar meskipun diketahui bahwa bangsa ini sangat beragam tapi tetap satu. Dan dikuatkan dengan semangat pemuda tahun 1928 serta proklamasi kemerdekaan dalam bingkai persatuan kesatuan bangsa secara total. Hal ini tidak terlepas dari pembentuk jati diri bangsa Indonesia.
Dengan demikian, persatuan bangsa ini selanjutnya mempunyai dasar negara yang akan disepakati bersama. Wujud dari dasar itu terbentuklah dengan nama “Pancasila”. Yaitu dasar negara yang telah dirumuskan oleh golongan nasionalis-Agama (Islam). Dapat dipahami bahwa jika Pancasila ini sudah benar-benar menjadi dasar dari negara Indonesia maka tidak dapat dipungkiri Negara ini akan aman, damai dan sejahtera seperti masa-masa kejayaan Nusantara di masa lalu.
C.      Refleksi Dari Sejarah
Keagungan Indonesia sebagai bangsa sesuai diisyaratkan diatas, dibangun berdasarkan historis penting, yang mencakup rasa senasib seperjuangan dengan cita-cita yang ingin dicapai bersama. Saya yakin, jika semangat persatuan tersebut dibangkitkan dan dikembangkan kembali Indonesia dapat meraih kejayaannya seperti masa kejayaan Nusantara dahulu. Seperti diketahui, nampaknya rasa persatuan dan kesatuan itu telah memudar, hal ini dibuktikan dengan kekerasan atas nama Agama, ideologi, suku dan sebagainya belakangan ini. kita masih sering mendengar perang antar suku, bahkan belum lama ini kekerasan terjadi karena masalah ideologi, bahkan yang lebih ironis bentrok antar pelajar dan sebagainya. Bahkan jika ditelaah secara mendalam, secara tidak sadar bangsa ini menjadi terkotak-kotak karena hal tersebut.
Sebagai bangsa seharusnya kita sadar, bagaimana para leluhur mengajarkan sifat bijak serta Founding Father bangsa ini memperjuangkan kebesaran Indonesia dengan menyuarakan Nasionalisme Indonesia, menurut Azra adalah bahwa puncak nasionalisme ini tercapai pada masa Soekarno. Berkat kemampuan intelelektaulanya dan retorikanya, ia berhasil menggelorakan nasionalisme dalam membebaskan diri dari cengkeraman imperialisme dan kolonialisme Barat. Tidak kalah pentingnya, semangat Nasionalisme oleh kaum Agamis yang dikibarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan Resolusi Jihadnya.   Mereka mengajarkan rasa kebersamaan, membangun hidup harmonis dalam masyarakat melalui berbagai macam perbedaan yang ada. Baik latar belakang, ekonomi, pendidikan, agama, politik, suku dan sebagainya. Maka dengan motto Bhineka Tunggal Ika marila kita kobarkan semangat kebangsaan dengan menjadi bangsa “satu”
Apalagi masih sering muncul dalam kehidupan kita dengan menganggap bahwa dirinya paling benar dan tidak mengakui keberadaan yang lain. Tidak memahami perbedaan dengan benar. Lalu semua mengaku dirinya paling benar agar bisa diakui bahwa dirinyalah yang terbaik. Melihat realitas yang terjadi ini, sangat ironis bagi sejarah bahwa semangat Nasionalisme bangsa ini telah tergantikan oleh egoisme kesukuan, kelompok bahkan Agama kemudian nasionalisme yang selama ini tumbuh subur menjadi kering dan cenderung pasif.
Jika hal ini adalah penyakit bagi Indonesia. Apakah kita akan selalu terkotak-kotakkan oleh egoisme kesukuan ?? Egoisme kelompok ??? Egoaisme ideologi ?? Atau bahkan Agama ???. permasalahan tersebut adalah PR bagi kita. !!!!!
***



[1]. Austronesia yaitu mengacu pada wilayah geografis yang penduduknya menuturkan bahasa-bahasa Austronesia. Wilayah tersebut mencakup Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Secara harafiah, Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa Latin austrālis yang berarti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak: nesia) yang berarti "pulau" (http://id.wikipedia.org/wiki/Rumpun_bahasa_Austronesia)
[2]. ia adalah seorang filsuf yang terkenal karena karya-karya berpengaruh pada sejarah Kekristenan awal dan teori politiknya, terutama mengenai nasionalisme dan identitas nasional.
[3]. Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit ( Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara, 2007 ), hlm. 254.
[4]. Slamet Muljana, Kesadaran Nasional Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan (Yogyakarta: LkiS Pelangi Angkara, 2008), hlm. 4.
[5]. Ahwan Mukarrom, Kerajaan-Kerajaan Islam Indonesia (Surabaya: Fak. Adab. SPI. IAIN Sunan Ampel), hlm. 96. Kebencian Amangkurat I terhadap Islam ini terbukti dengan pembunuhan besar-besaran terhadap Ulama dan keluarganya di alun-alun Pleret pada tahun 1670 M, sebagaima yang dikutip Van Goens dari tulisan Ahmad Adaby Darban “ Perlawana Kyai Kajoran Terhadap Sunan Amangkurat I. Tidak kurang dari 6000 Ulama dan keluarganya tewas dibunuh.
[6]. Ibid. hlm. 97. Isi perjanjian Jepara diantaranya sebagai berikut: pertama, daerah timur Karawang sampai Panarukan diserahkan kepada Belanda. Kedua, Amangkurat II mengakui berhutang kepada Belanda 250.000 real Spanyol 3000 Koyan dan mengganti biaya perang Belanda sebanyak 20.000 real tiap bulan. Ketiga, daerah ujung timur pantai utara Jawa hingga karawang menjadi daerah pengawasan Belanda. Keempat, segala import kain Jawa dimonopoli Belanda.
[7]. Lebih lanjut baca Api Sejarah: Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri, hlm. 339-369.

Selasa, 22 November 2011

"PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM III"


PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM III

 PENDAHULUAN

Pada masa yang dipimpin oleh khalifah sepeninggal nabi Muhammad SAW, Islam terus mengalami perkembangan dan kemajuan.  Tidak hanya dalam penyebaran agama saja tapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan.  Banyaknya kemunculan pusat pusat peradaban Islam di berbagai tempat membuktikan bahwa Islam telah membawa banyak perubahan pada umat manusia. Umat Islam banyak mengkaji keilmuan yang diperolehnya berdasarkan panduan dari kitab suci Al Qur’an dan Al Hadist.  Banyak penemuan dan kejadian yang terkandung di dalam Al Qur’an yang akhirnya membuka cakrawala pengetahuan dunia.  Di pusat pusat peradaban Islam inilah banyak tertinggal sejarah peradaban Islam yang kokoh dan berkembang pesat. Banyak pengetahuan tentang ilmu perbintangan, Science dan masih banyak lagi bidang keilmuan serta penemuan penting yang berguna bagi manusia juga dihasilkan di pusat pusat peradaban Islam ini.  Tidak heran, umat Islam mencapai puncak kejayaan pada masanya.


PUSAT-PUSAT PERADABAN ISLAM  III
1.      DELHI
Delhi adalah sebuah kerajaan Islam di Indiaa Utara yang berkuasa sejak awal abad ke-13 sampai dengan awal paruh kedua abad ke-16.[1] Delhi adalah ibu kota kerajaan Islam India sejak tahun 608 H/1211 M. Sebagai ibu kota kerajaan Islam, Delhi menjadi pusat kebudayaan dan peradaban Islam di anak benua India. Delhi terletak di pinggir Sungai Jamna. Mula-mula Delhi dikuasai Islam, ditaklukan oleh Quthb Ad-Din Aybak penguasa dari Dinasti Mamluk. Sejak itu Delhi dikuasai oleh para sultan-sultan yang secara berturut-turut terdiri dari dinasti-dinasti, yakni Dinasti Khalji, Tughluq, Sayid, Suri atau Afghan, Lodi, dan yang terakhir Mughal. [2]   
Setelah India di kuasai oleh dinasti-dinasti Islam, India mengalami perkembangan peradaban dan Peradaban Islam di India juga bisa dipisahkan dari keberadaan Dinasti Mughal. Selama tiga abad (932-1274 H/1526-1857 M) dinasti telah mampu memberi warna negeri yang mayoritas beragama Hindu ini. Setidaknya agama Islam menjadi tersebar di seluruh penjuru India.
Kerajaan Mughal didirikan oleh Zahiruddin Babur (1526-1530 M).[3] Secara geologis Babur merupakan cucu Timur Lenk (dari pihak ayah) dan keturunan Jeghiz Khan (dari pihak ibu). Ekspansinya ke India dimulai dari dengan menundukkan penguasa setempat yaitu Ibrahim Lodi (dinasti Lodi) dengan bantuan Alam Khan (paman Lodi) dan gubernur Lahore. Tahun 1525 M, ia berhasil menguasai punjab dan meneruskannya ke Delhi tahun 1526 M.[4] Sejak itu Babur menguasai India dan Kota Delhi menjadi ibu kota kerajaan Munghal pada masa Humayun (1530-1556), seorang raja yang cinta ilmu.
Hasil peradaban yang dicapai pada waktu dikuasai dinasti-dinasti Islam antara lain:
a.                                         Bidang Seni dan Arsitektur
Masjid Quwwat al-Islam yang didirikan oleh Quthubuddin Aibak dan Quthb Minar merupakan peninggalan Delhi terbaik. Masjid terkenal lainnya, Araidin ka Jopra didirikan di Ajmer, menara Husbug shah yang didirikan pada dinasti Khalji yang semuanya dibangun dengan batu mamer.
Hasil karya seni dan arsitektur pada waktu dinasti Mughal yang sangat terkenal dan bisa dinikmati sampai sekarang, yakni Ciri yang menonjol dari arsitektur Mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yag timbul dengan kombinasi warna-warni, seperti benteng merah (Lah Qellah), istana-istana, makam kerajaan dan yang paling mengagumkan adalah Taj Mahal di Aghra. Istana ini merupakan salah satu dari keajaiban dunia yang dibangun oleh Syah Jehan khusus untuk istrinya Momtaj Mahal.
b.                                        Bidang Ilmu Pengetahuan
Dinasti Mughal juga banyak memberikan sumbangan di bidang Ilmu Pengetahuan. Banyak ilmuwan yang datang ke India untuk menuntut Ilmu Pengetahuan, bahkan Istana Mughal pun menjadi pusat kegiatan kebudayaan.
Pada tiap-tiap masjid memiliki lembaga tingkat dasar yang dikelola oleh seorang guru. Pada masa Syah Jehan didirikan sebuah perguruan tinggi di Delhi. Pada bidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebutan Fatawa I-Alamgiri.


2.      ANDALUSIA
Andalusia adalah sebuah wilayah Islam di Spanyol. Setelah Andalusia menjadi wilayah Islam, maka dibangunlah kembali kota-kota lama di samping membangun kota baru, dengan gaya seni bangunan Islam, dimana kemudian Andalusia terkenal dengan kota-kotanya yang indah, masjid-masjid yang cantik, istana-istananya yang mengagumkan dan taman-tamannya yang mempesona.
Pusat-pusat peradaban Islam di Spanyol adalah sebagai berikut:
a.     Cordova
Cordova merupakan salah satu di antara kota-kota besar yang ada di Andalusia. Cordova merupakan kota lama yang dibangun kembali dengan gaya Islam. Kota ini pertama kali dimasuki Islam pada tahun 711 M oleh pasukan Thariq bin Ziyad.[5] Ketika Abdurrahman I bergelar Abdurrahman Ad-Dakhil masuk ke Andalusia,  telah menjadikan Cordova sebagai ibu kota dari dinasti Spanyol.
Sebagai ibu kota pemerintahan, Cordova di masa Bani umayah mengalami perkembangan pesat. Banyak bangunan baru yang didirikan, seperti istana dan masjid-masjid. Kota ini juga diperluas, membangun sebuah jembatan berarsitektur islam dalam gaya Romawi, dan lain-lain. Perkembangan kota ini mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Abd Al-Rahman Al-nashir di pertengahan abad ke10 M.Pada masa Islam, Cordova terkenal juga sebagai pusat kerajinan barang-barang dari perak, sulaman-sulaman, dari sutera dan kulit.
Selain terkenal sebagai pusat kerajinan, Pada masa pemerintahan Bani Ummayah di Spanyol, Cordova juga menjadi pusat ilmu pengetahuan. Di kota ini berdiri Universitas Cordova, perpustakaan besar yang mempunyai koleksi kira-kira 400.000 judul buku. Hal tersebut tak terlepas dari Abd Al-rahman Al-Nashir dan anaknya Al-Al-HAkam. Pada masanyalah tercapai apa yang dinamakan masa keemasan ilmu pengetahuan dan sastra di Spanyol Islam. Sehingga Cordova  menjadi lahirnya orang-orang yang memajukan perkembangan Bahasa dan Sastra Arab, seperti sastrawan terkemuka di Andalusia, yakni Abu Amr Ahmad ibn Muhammad ibn Abd Rabbih, Abu Amir Abdullah ibn Syuhaid. Dalam bidang kedokteran, Cordova juga sebagai salah satu  pusat aktivitas medis dan melahirkan ilmuwan terkemuka, seperti Ibnu Rusyd yang menghasilkan karya besar, yaitu  Kitab Al-Kuliyat fi Ath-Thib.
Pada tahun 786 M, dibangun sebuah Masjid dengan luas 175x134 meter dan tinggi menaranya 20 meter terbuat adri marmer dan sebuah kubah besar, yang bernama masjid Cordova, dan pada masa Al-Hakam di Cordova terdapat 491 masjid dan 900 pemandian umum. Karena air di Kota ini tak dapat diminum, penguasa Muslim mendirikan saluran air dari pegunungan yang penjangnya 80 km.
b.        Sevilla
Kota Sevilla dibangun pada masa Dinasti Al-Muwahhidun memerintah. Kota ini pernah menjadi ibu kota Andalusia. Awalnya kota ini hanyalah rawa-rawa, tetapi pada masa Romawi diubah menjadi kota  yang bernama Romula Agusta, kemudian diubah menjadi Hispah, sebelum menjadi Asyibiliyah. Selama dikuasai Islam, kota ini selalu diperidah dengan tanaman-tanaman berbunga dan harum.
Sevilla berada dibawah kekuasaan Islam selama 500 tahun (712-1248 M). Tidak heran jika pada saat ini banyak dijumpai peninggalan-peninggalan seni budaya Islam. Salah satu bangunan yang menjadi kebanggaan umat Islam, kini telah berubah menjadi gereja dengan nama  Santa Maria de la Sede.
c.       Granada
Granada merupakan kota besar di Andalusia, yang pernah  menjadi kebanggaan kaum Muslimin Andalusia. Granada terletak di sekitar 288 km sebelah  timur kota Sevilla, pada sebuah dataran tinggi yang subur.
Pada abad ke12, Granada menjadi Kota terbesar kelima di Spanyol. Sejak abad ke13, Granada diperintah oleh dinasti Nasrid selama lebih kurang 250 tahun. Pada masa itulah dibangun istana megah (Al-Hambra). Istana ini dibangun oleh arsitek-arsitek Muslim pada tahun 1238 M dan terus dikembangkan sampai tahun 1358 M. Istana ini terletak di sebelah Timur Al-Kajaba, sebuah benteng tentara Islam. Granada terkenal dengan tembok dan 20 menara mengitarinya.
Pada masa Dinasti Umayyah di Andalusia, Granada mengalami perkembangan pesat. Pada masa pemerintahan Muhammad V (1354-1391 M), Granada mencapai puncak kejayaannya, baik dalam Arsitektur maupun dalam politik. Akan tetapi, menjelang akhir abad ke 15 pemerintahan menjadi lemah terutama karena perpecahan keluarga.

3.      TRANXOSANIA
Tranxosania adalah wilayah Bukhara dan Samarkand. Tranxosania adalah wilayah yang terletak di Asia Tengah, terletak di sekitar barat Cina dan Selatan Rusia serta di sebelah Timur Afghanistan. Pada wilayah ini terdapat dua kota penting yang menjadi pusat peradaban Islam, yaitu Samarkand dan Bukhara.
a.    Samarkand dan Bukhara
Samarkand dan Bukhara merupakan wilayah kekuasaan masa dinasti Samanid. Ibu kotanya Bukhara, dan kota terkemukanya adalah Samarkand. Pada waktu dinasti Samanid, Samarkand menjadi daerah yang sangat makmur dan msayarakatnya hidup sejahtera, Samarkand juga merupakan kota terpenting karena menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan Islam.[6] Penghasilan utama kota Samarkand adalah kertas Samarkand yang terkenal.
Sedangkan Bukhara pada waktu dinasti Samanid merupakan salah satu daerah yang dalam sejarah Islam dikenal dengan sebutan Ma Wara’ An-Nahr, yakni daerah-daerah yang terletak di sekitar sungai Jihun di Uzbekiztan, Asia Tengah. Bukhara menjadi pusat pemerintahan dan peradaban pada masa dinasti Samanid. Hal ini berlangsung selama kurang lebih dari 150 tahun.[7] Bukhara bukan saja terkenal dengan keindahannya, tetapi juga menjadi pusat perdagangan yang mempertemukan pedagang-pedagang dari Cina dengan pedagang-pedagang dari Asia Barat. Disana juga mulai berkembang usaha pembuatan kain sutera, tenunan kain dari kapas, perhiasan emas, dan perak dengan berbagai bentuk.
Samarkand dan Bukhara hampir mengungguli Baghdad sebagai pusat pendidikan dan seni. Tidak hanya keilmuan Arab yang dilindungi dan dikembangkan, tetapi keilmuan Persia. Pada masa dinasti Samanid inilah muncul beberapa orang ilmuwan muslim yang berasal dari Bukhara. Diantaranya adalah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Abdul Rahim bin Ahmad Al-Bukhari, dan Abu Hafs Al-Bukhari. Tidak hanya itu, pada masa ini pula, ilmuan Muslim termasyhur, al-Razi mempersembahkan karya utamanya dalam bidang kedokteran yang berjudul al-Manshur kepada pangeran Samaniyah. Tidak hanya muncul beberapa orang Ilmuwan, tetapi pada masa kejayaan dinasti Samanid, di Bukhara terdapat istana yang merupakan Perguruaan tinggi dan pusat kegiatan ilmu dan pengetahuan. Sehingga terkenallah Maktab Nuh bin Nashr As-Samani sebagai perguruan tinggi yang lengkap. 

KESIMPULAN
Delhi, Andalusia, dan Transxosania merupakan bagian dari pusat peradaban Islam yang sangat penting. Di daerah itu banyak sekali peninggalan Islam dan sejarah yang penting tentang kejayaan Islam. Delhi merupakan salah satunya Dinasti Islam yang berjaya di akhir kejayaan Islam. Di sana banyak sekali peradaban yang ditinggalkan baik dalam maslah intelektual atau religius. Salah satu peninggalan bersejarah yang penting adalah Taj Mahal.
Andalusia berhasil di masuki oleh Islam pada tahun 711 M oleh thariq bin ziyad dari Umayyah. Kerajaan Umayyah II di Andalusia merupakan tempat lahinya berbagai ilmu dan tokoh. Sehingga waktu itu menjadi tandingan Bagdad dalam segala ilmu pengetahuan. Di sana terdapat tiga kota penting yang menjadi pusat kerajaan yaitu, Cordova, Sevilla, dan Granada.
Cordova mengalami perkembangan pesat pada masa Dinasti Umayyah, di sana banyak dibangun istana dan masjid-masjid. Di kota ini juga merupakan pusat ilmu pengetahuan, berdirinya Universitas Cordova, perpustakaan besar yang mempunyai koleksi kira-kira 400.000 judul buku. Di Sevilla banyak dijumpai peninggalan-peninggalan seni budaya Islam. Salah satu bangunan yang menjadi kebanggaan umat Islam, kini telah berubah menjadi gereja dengan nama Santa Maria de la Sede. Sedangkan di Granada terdapat istana yang megah, yang di bangun pada dinasti Nasrid yang berkuasa selama lebih kurang 250 tahun yaitu istana Al-Hambra yang dibangun oleh arsitek-arsitek muslim pada tahun 1238 M dan terus dikembangkan sampai tahun 1358 M.
Transoxania berada di timur baghdad. Pada wilayah ini terdapat dua kota penting yang menjadi pusat peradaban Islam, yaitu Samarkand dan Bukhara. Pada waktu dinasti Samanid, Samarkand menjadi daerah yang sangat makmur dan msayarakatnya hidup sejahtera, Samarkand merupakan kota terpenting karena menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan Islam.[8] Sedangkan Bukhara pada waktu dinasti Samanid merupakan salah satu daerah yang dalam sejarah Islam dikenal dengan sebutan Ma Wara’ An-Nahr, yakni daerah-daerah yang terletak di sekitar sungai Jihun di Uzbekiztan, Asia Tengah. Bukhara menjadi pusat pemerintahan dan peradaban pada masa dinasti Samanid. Hal ini berlangsung selama kurang lebih dari 150 tahun.
Samarkand dan Bukhara hampir mengungguli Baghdad sebagai pusat pendidikan dan seni. Tidak hanya keilmuan Arab yang dilindungi dan dikembangkan, tetapi keilmuan Persia. Pada masa dinasti Samanid inilah muncul beberapa orang ilmuwan muslim yang berasal dari Bukhara. Diantaranya imam Bukhari seorang ulama hadist, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Abdul Rahim bin Ahmad Al-Bukhari, dan Abu Hafs Al-Bukhari

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: AMZAH, 2009.
Hitti, Philip. K, History Of The Arabs, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2010
Kandu, Amirullah, Ensiklopedi Dunia IslaM, Bandung: CV Pustaka Setia, 2010.
Maryam, Siti dan dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta: LESFI, 2009.




[1]Ensiklopedi Islam
[2] Kandu, Amirullah, Ensiklopedi Dunia Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hal. 376
[3] Maryam, dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa  Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: LESFI, 2009), hal. 184
[4] Ibid.,
[5] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam,  (Jakarta:AMZAH, 2009), hal.
[6] Hitti, Philip. K, History Of The Arabs, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2010), hal.
[7] Kandu, Amirullah, Ensiklopedi Dunia Islam, hal. 365

[8] Hitti, Philip. K, History Of The Arabs, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2010), hal.