Powered By Blogger

Sabtu, 04 Desember 2010

"DEVELOPMENTALISME REPRESIF ORDE BARU DAN RESPON INTELEKTUAL ISLAM"






DEVELOPMENTALISME REPRESIF ORDE BARU DAN RESPON INTELEKTUAL ISLAM
Ketika rezim Soekarno jatuh pada 1966, muncullah kekuatan dari orde baru Soeharto, yang menjadikan landasan kerjanya yaitu keluarnya mandat Soekarno yang kontroversial pada 11 Maret 1966. Para intelelaktual dari PSI dan kaum Kristen patner utama pihak militer dalam membangun orde baru. Dalam menghadapi krisis ekonomi orde baru memobolisasi politik masa dan perselisihan politisi sipil yang berlangsung pada masa sebelumnya telah mengabaikan problem-problem mendasar  yaitu kesejahteraan ekonomi dan sosial. Karena Negara sedang dalam keadaan bangkrut, dalam pembangunan ekonomi, tidak ada pilihan lain kecuali hutang dan investasi asing.
Dalam mengamati pemerintahan orde baru, terdapat beberapa pandangan akademis yang muncul. Orde baru sudah jauh dari hati nurani rakyat dan tidak memberikan umpan-balik dalam persoalan-persoalan kebijakan serta tidak peka terhadap kebutuhan-kebutuhan publik.
Meskipun menimulkan ketidaksukaan dan kritik dari para intelektual, rezim ini menunjukkan pembangunan dalam bidang pendidikan. Sejak Repelita II sampai ke IV, anggaran pendidikan terus-menerus mengalami kenaikan. Sebagai hasilnya jumlah siswa pun berkambang sangat pesat, sehingga sejak 1984 pemerintah menerapkan wajib belajar enam tahun secara nasional, kemudian atas prestasi ini pada 1993 indonesia meraih “Avicenna Award” dari UNESCO, serta dilanjutkan wajib belajar Sembilan tahun. Peningkatan yang signifikan ini juga terbukti dengan meningkatnya mahasiswa pada perguruan tinggi dan jumlah perguruan tinggi yang semakin banyak. Selain itu orde baru mendukung pendidikan agama di sekolah-sekolah umum dan universitas-universitas.
Sejak pertengahan 1980-an lulusan universiatas lebih cenderung suka bekerja paa sektor swasta karena gajinya yang banyak, dan kebanggaan menjadi pegawai negeri mulai menurun. Banyaknya lulusan universitas sedangkan sektor swasta semakin terbatas maka semakin banyak pengangguran, akibatnya presentase sosial intelegensia secara umum semakin merosot.
Sepanjang rezim Soekarno, kelompok ekonom dai UI, memberikan kuluah-kuliah ekonomi di sekolah staf dan komando angkatan darat (SESKOAD), diantarnya jenderal Soeharto. Saat Soekarno runtuh, para ekonom mulai mengkritik kebijakan-kebijakan Soekarno dalam sebuah buku edisi kusus pada November 1965. Dengan adanya kombinasi antara manajemen ekonomi yang efektif, lingkungan yang mendukung dan stabilitas politik, pembangunan ekonomi berkembang dengan pesat. Pada akhir 1960-an stabilitas harga telah tercapai, kemudian 1965-1996 GNP meningkat 6,7% per tahun. Kemiskinan semakin menurun dari 70% pada 1960-an menjadi 27% pada 1990-an. Untuk memperkuat legitimasi politiknya Soeharto merekrut para intelektual sipil terkemuka dan berpengaruh sebagai pendampingnya. Sedangkan untuk menjamin stabilitas ekonomi, dipegang oleh pihak militer.
Pemerintah juga berusaha untuk melumpuhkan partai-partai politik yang ada, lewat kebijakan-kebijakan intervensi dengan tujuan untuk mengisolasi para pemimpin berpengaruhnya dan untuk mengamankan kepemimpinan yang patuh dalam partai tersebut. Setelah pemilu 1971, pemerintah memperkenalkan konsep “masa mengambang” yang melarang masyarakat level bawah terlibat dalam aktivitas politik, begitu juga kegiatan kemahasiswaan di control sangat ketat oleh pemerintah.
Politik Islam masa orde baru sangat dikekang dengan berbagai kebijakan, seperti taktik “bulldozer” sehingga pada pemilu 1971 presentase politik Islam sangat mengecewakan. Partai-partai Islam pada rezim ini tidak bardaya, terbukti dengan presentase partai Islam yang semakin tahun semakin menurun, lewat Korp Pegawai Republik Indonesia (Korpri) pada tahun 1971 pemerintah melakukan pereturan-peraturan dan intimidasi yang melarang pegawai negeri sipil untk menjadi anggota partai Islam. Selanjutnya orang-orang yang berada di kursi pemerintahan meningkat sedangkan muslim semakin menurun.
Dengan lemahnya partai Islam, maka, berdasarkan pertemuan pada 26 Febuari 1967 di Masjid Al-Munawarrah, para intelegensia muslim segera membentuk lembaga dakwah kusus yang berorientasi pada pelaksanaan dakwah Islam secara lebih luas dan komprehensif, yang diberi nama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). M. Natsir sebagai ketua dan H.M. Rasjidi sebagai wakil pertama dengan didukung Masjumi dan kaum reformis-modernis.
Intelengensia pada masa perjuangan sangat terbatas, karena kebijakan Belanda yang mengutamakan priyayi, kemudian kedatangan Jepang, selanjutnya diusul revolusi kemerdekaan. Kebanyakan studi mereka terpotong karena perjuangan kemerdekaan dan baru bisa melanjutkan pada tahun 1950 atau 1960-an. Hanya dua dari mereka yang menjadi cabinet Soeharto.
Intelegensia selanjutnya, memberikan respon terhadap tantangan medernisasi dan rasa frustasi politik Musllim dengan penuh energi dan kreativitas. Generasi ini banyak berkecimpung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan Islam, antara lain HMI, PMII, IMM, (LMDI-HMI) dan lain-lain. Mereka berjuang sesuai ideologi masing-masing, seperti HMI, ia cenderung pada asrpirasi-aspirasi politik yang inklusif, serta pandangan LMDI yang berkiblat kepada Masjumi dan Natsir.

"SEJARAH PERADABAN ISLAM"(STUDI KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN ARSITEK ANDALUSIA)

BAB II
PEMBAHASAN
Kejayaan Islam di Andalusia sangat menonjol dalam berbagai bidang, baik bidang ilmu pengetahuan maupun kemajuan bangunan fisik ataupun arsitektur, yang akan penulis bahas di bawah ini.
A.      KEMAJUAN INTELEKTUAL DAN KEILMUAN
1.        ILMU FILSAFAT
Islam Andalusia pembangunannya dalam bidang ini, sekitar abad ke-9. Sejak abad ini, minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai berkembang, yakni selama pemerintahan Bani Umayyah ke-5 , yaitu Muhammad Ibn Abd Ar-Rahman (832-886).[1] Bahkan menurut Drs. Samsul Munir. MA,  Perkembangan ilmu filsafat di Andalusia di mulai sejak abad ke-8 hingga abad ke-10. Manuskrip-manuskrip Yunani yang di teliti dan diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Tokoh utama dan pertama dalam sejarah filsafat Arab Spanyol (Andalusia) adalah Abu Bakar Muhammad As-Sayigh yang di kenal dengan Ibnu Bajjah. Tokoh utama kedua yaitu Abu Bakr bin Thufail, yang menulis kitab Hayy Yaqzhan. Dan masih banyak filosof Islam Andalusia salah satunya yaitu Ibnu Rusyd, di Eropa di kenal dengan Averros (1126-1198), pengikut aliran Aristoteles. Selain tokoh filsafat, ia juga sebagai ulama’ fiqh, yang menulis kitab Bidayat Al-Mujtahid dan kedokteran dengan karyanya yaitu kitab Al-Kulliyah fi Ath-Thib.[2]
2.                       SAINS
Islam Andalusia, sebagaimana yang telah di uraikan diatas adalah salah satu peristiwa terpenting yang mewarnai sejarah islam. Tidak hanya dalam ilmu filsafat, ilmu sains juga berkembang pesat pada masa itu, diantaranya yaitu: ilmu kedokteran, fisika, matematika, astronomi, kimia, botani, zoologi, geologi, lmu obat-obatan, geografi, sejarah dan lain sebaginya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Badri Yatim, MA, dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam yang dikutip dari karya Ahmad Salabi dalam kitapnya Mausu’ah Al Tarikh wa Al- Islamiyah, jilid 4, tokoh yang termashur dalam bidang kimia dan astronomi adalah Abbas bin Farnas yaitu tokoh yang pertama kali menemukan pembuatan kaca dari batu.[3] Selain tokoh diatas ahli astronomi yaitu Ibnu safar, Ibrahim bin Yahya An-Naqqas, Al-Bitruji. Dalam bidang matematika, pakar yang terkenal adalah Ibn Sina. Ia juga dikenal sebagai teknokrat dan ahli ekologi. Selain tokoh diatas bidang matematika juga melahirkan nama Ibn Saffat dan Al-Kimmy, keduanya juga ahli dalam bidang teknik.[4] Ahmad Ibn Ibas dari Cordova adalah ahli bidang obat-obatan,  Ibnu Juljul, Ibn Hazm, Ibnu Abdurrahman bin Syuhaid.
Adapun dalam,bidang kedokteran, Ummul Hasan bin Abi ja’far, seorang tokoh dokter wanita. Dalam bidang geografi, yaitu Ibnu Jubar dari Valenca (1145-1228 M), Ibnu Batuthah dari Tangier (1304- 1377 M) pelancong Islam yang menurut catatan sejarah, dia sempat singgah di Samudra Pasai dan China, Ibn al-Khatib (1317-1374 M) yang menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah.[5] Demikianlah sebagian nama-nama tokoh sains.
3.        BAHASA DAN SASTRA
Ketinggian bahasa dan sastra Arab mendorong lahirnya ilmu bahasa dan sastra Arab serta tokoh-tokoh dalam bidang ilmu ini, selain itu, menurut Syalabi yang dikutip dari keterangan Nicholson dan di kutip oleh Maman A. Malik Sya’roni dalam buku sejarah peradaban islam yang ditulis oleh Dudung Abdurrahman, bahwa pada abad 9 M bahasa Arab sudah menjadi bahasa resmi Andalusia.[6] Inilah salah satunya pendorong  lahirnya ilmu ini. Islam Andalusia melahirkan banyak tokoh-tokoh bahasa Arab, diantaranya: Ibnu Sayyidih, Muhammad Ibn Malik (pengarang kitap Alfiyah Ibn Malik), Ibnu Khuruf, Ibnu Al-Hajj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan bin Usfur dan Abu Hayyan Al-Gharnathi.
Bidang sastra juga berkembang pesat, hal ini terbukti dengan banyaknya para tokoh sastra yang bermunculan, Ibnu  Abd Rabbih dengan karyanya Al-Aqd Al-Farid, Ibnu Bassam dengan karyanya Adz-Dzakirah fi Mahasin Ahl Al-Jazirah, Al-Fath bin Khaqan yang menulis buku Al-Qolaida dan lain-lain.
4.         MUSIK DAN KESENIAN
Musik dan kesenian saat itu, tidak kalah berkembangnya dibandingkan ilmu-ilmu lain, indikasi kemajuannya adalah berdirinya sekolah musik di Cordova oleh Zaryab.[7] Nama aslinya yaitu Al-Hasan bin Nafi, juga dikenal sebagai pencipta lagu pada masanya. Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Dedi Supriadi, M.Ag, dalam bukunya “Sejarah Peradaban Islam” bahwa Zaryab adalah artis terbesar di zamannya, siswa sekolah musik Ishak al-Mausuli dari Bagdat.[8]
5.        ILMU AGAMA
Disamping berbagai macam ilmu yang telah di uraikan diatas perkembangan ilmu agama pun juga berkembang pesat, diantaranya yaitu ilmu tafsir, hadist dan ilmu fiqh. Dibidang tafsir Al-Qur’an Andalusia melahrkan beberapa tokoh, antara lain: Ibnu Athiyah (W. 546 H), dan Al-Qurtubi. [9] Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh Al-Anshari Al-Khazraji Al-Andalusi (W. 1273 M), adapun karya-karyanya adalah Al-Jami’u li Ahkam Al-Quran, terdiri dari 20 jilid, ang di kenal dengan Tafsir Al-Qurtubi.[10]


Dalam bidang hadist, terdapat para pakar seperti, Ibnu Waddah bin Abdul Barr, Al-Qhadi bin Yahya Al-Laisi, Abdul Walid Al-Baji, Abdul Walid bin Rusyd dan Asim yang menulis kitab At-Tuhfah.[11] Dalam bidang ilmu fiqih juga melahirkan para tokoh yang terkemuka diantaranya Abu Bakr Al-Quthiyah, Muniz bin Sa’id Al-Baluthi, Ibnu Rusyd penulis kitab Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah Al-Mu’tasid,Asyatibi, penulis kitab Al-Muwafaqat fi Ushul As-Syari’ah dan Ibnu Hazm.[12] Islam Andalusia ini menganut madzhab Maliki, yang di perkenalkan oleh Ziyad bin Abd Ar-Rahman.
B.       KEMAJUAN DI BIDANG ARSITEKTUR BANGUNAN
Bani Umayyah II merupakan kekuasaan inti di Andalusia,[13] mampu menempatkan Cordova sejajar dengan Baghdat, sebagai peradaban dunia.[14] Kemegahan bangunan fisik Islam Andalusia mendapatkan perhatian dari umat dan penguasa, umumnya bangunan-bangunan di Andalusia memiliki arsitektur yang tinggi. Jalan-jalan, pasar, dam, kanal, saluran-saluran air dan jembatan-jembatan dibangun.[15] Di samping itu, istana-istana, masjid yang besar-besar dan megah-megah, seta tempat pemandian dan taman-taman yang semuanya dipersatukan dalam kota yang ditata dengan teratur.[16] Kota Cordova menjadi penting ketika Samah Ibn Malik al-Khaulani menjadikan kota ini menjadi ibu kota propinsi Andalusia menggantikan Sevilla. Ia membangun tembok dinding kota, memugar jembatan tua yang di bangun oleh penguasa Romawi dan bangunan kisaran air.[17]
Ketika Ad-Dakhil berkuasa, Cordova menjadi ibu kota Negara, ia membangun kembali kota ini dan memperindahnya, serta membangun benteng di sekeliling kota dan istana.[18] Peninggalan Ad-Dakhil yang hingga saat ini masih berdiri tegak adalah masjid jami’ Cordova, bagian utama dan menaranya dibangun pada masa Hisyam I, sebagaimana keterangan dari Pillip. K. Hitti bahwa ia membuat barisan tiang sebanyak 1.293 buah, yang membentuk sebuah belantara yang agung, mendukung atap masjid. Lampu-lampu yang terbuat dari kuningan, menyerupai bentuk lonceng.[19] Konon pendirian masjid itu menghabiskan 80.000 keping emas yang berasal dari rampasan uang untuk menghiasi bagian atas stuktur bangunan itu. selanjutnya pada masa Al-
Ausath, al-Nashir, al-Mustanshir dan al-Manshur, diperindah dan diperluas, sehingga menjadi masjid paling besar dan paling indah pada masanya.[20]
 Perkembangan paling pesat terjadi pada masa al-Mustanshir dan al-Muayyad. Pusat kota dikelilingi oleh dinding tembok dan pintu gerbangnya pada waktu tu sudah berada di tengah, karena berkembangnya daerah pinggiran di sekitarnya. Seperti keteranngan dari Hasan Ibrahim Hasan yang di kutip oleh Dudung Abdurrahman dalam buku Sejarah Peradaban Islam menyatakan bahwa penduduk Cordova kira-kira 500.000 orang, sedangkan rumahnya 13.000, tidak termasuk istana-istana megah. Daerah pinggiran, 300 buah pemandian umum dan 3000 buah masjid. Tidak ada satupun yang menandingi Cordova pada waktu itu selain Baghdat.[21] Menurut Jurji Zaian Cordova (termasuk daerah pinggiran) pada masa al-Manshur ibn Abi Amir jumlah penduduknya kira-kira dua juta orang, bangunannya berjumlah 124.503 buah, 113.000 buah rumah penduduk, 430 buah istana, 6300 buah pegawai negeri, 3.873 buah masjid dan 900 buah pemandian umum.[22]
Selain bukti-bukti kemajuan bangunan diatas, masih banyak bukti-bukti lai yang di bangun oleh umat Islam pada masa itu, seperti istana Al-Hamra dengan gaya arsitektur yang sangat tinggi, yang di rancang para arsitek terkemuka di dunia.[23] Kemajuan Islam Andalusia, kususnya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta bangunan merupakan proses yang sangat panjang dengan terwujudnya kerja sama yang baik antara para sarjana dan intelektual muslim serta di dukung oleh kebijakan pemerintah, kemampuan ekonomi semangat keberagaman dan persaudaraan yang kuat.[24]



[1]. Dedi Supriadi, M. Ag, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung:  Pustaka Setia, 2008), hal. 120, sesuai yang dikutip beliau dari Majid Fahri  pada halaman 357, menyatakan bahwa  pada pemerintahan Bani Umayyah ke-5, yaitu Muhammad Ibn Abd Ar-Rahman (832-886) ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya mulai berkembang.
[2]. Drs. Samsul Munir Amin. MA, hal. 172
[3]. Dr. Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 102
[4]. Dedi Supriadi, M. Ag, Sejarah Peradaban Islam ,hal. 121, yang di kutip dari pendapat Pillip. K. Hitti
6. Dr. Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II),hal. 102

[7]. Dedi Supriadi, M. Ag, Sejarah Peradaban Islam , yang dikutipnya dari keterangan A. Syalabi, lebih lanjutnya bisa dilihat dalam buku tersebut halaman, 122
[8]. Ibid, hal 122
[9]. Amirullah Kandu, Lc, Ensiklopedi Dunia Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hal. 316
[10]. Drs. Samsul Munir Amin. MA, hal. 174
[11]. Amirullah Kandu, Lc, hal. 316
[12]. Drs. Samsul Munir Amin. MA, hal. 174
[13]. Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: LESFI, 2009), hal. 84,  yang dikutip dari keterangan Syekh Muhammad Iqbal yang di terjemahkan Sumarno “Misi Islam”
[14]. Ibid, 84, yang dikutip dari keterangan Pillip. K. Hitti dalam buku “Dunia Arab”
[15]. Drs. Samsul Munir, MA,  Sejarah Peradaban Islam, hal. 174
[16]. Dedi Supriadi, M.Ag, Sejarah Peradaban Islam, hal. 123, yang di kutip dari keterangan Abd Rochim
. Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, hal. 84, dikutip dari Sejarah dan Kebudayaan Islam, yang disususn oleh Tim penyusun Texbook
[18]. Ibid, hal. 84, yang dikutip dari keterangan Jurji Zaidan dengan sebuah karyanya “Tarikh al-Tamadun” jilid ke-4
[19]. Pillip. K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2010), hal. 758
[20]. Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, hal.84
[21]. Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, hal.85-86
[22]. Ibid, hal. 86
[23]. Dedi Supriadi, M.Ag, Sejarah Peradaban Islam, hal. 123
[24]. Ibid, hal. 123 

"SEJARAH PERADABAN ISLAM" (STUDI KEMAJUAN-KEMAJUAN DAN PERKEBANGAN-PERKEMBANGAN PADA MASA DINASTI FATIMIYAH )

BAB II
PEMBAHASAN
A.      KEMAJUAN-KEMAJUAN DAN PERKEBANGAN-PERKEMBANGAN  PADA MASA  DINASTI FATIMIYAH
Setelah mengusai Mesir selama empat tahun (antara tahun 969 – 973 Masehi), Dinasti Fatimiyah telah mengalami masa kejayaan, yang ditandai dengan berpindahnya pusat pemerintahan ke Kairo pada tahun 973 Masehi/ 362 Hijriyah. ) Farhad Daftary melukiskan sebagai “The Fatimid Period is One the Documented Periods in Islamic History.” ) Zaman kejayaan ini ditandai dengan kemajuan di berbagai bidang antara lain bidang politik, ilmu pengetahuan, ekonomi, administrasi pemerintahan, militer, arsitektur, seni dan sebagainya.[1] Di bawah pemerintahan Fatimiyah inilah Mesir dan Kairo menglami kemakmuran ekonomi dan vitalitas cultural yang mengungguli Irak kontemporer dan Baghdat.[2]
1.        PERKEMBANGAN ADMINISTRASI DAN MILITER
Administrasi kepemerintahan Dinasti Fatimiyah secara garis besar tidak berbeda dengan administrasi Dinasti Abbasiyah, sekalipun pada masa ini muncul bebrapa jabatan yang berbeda. Khalifah menjabat sebagai kepala Negara baik urusan keduniaan maupun urusan spiritual. Khalifah berwenang mengangkat dan memberhentikan jabatan-jabatan di bawahnya.
Kementerian agama (wasir) terbagi menjadi dua kelompok, pertama adalah para ahli pedang dan kedua, para ahli pena. Kelompok pertama menduduki urusan militer, keamanan dan pengawal pribadi khalifah. Sedangkan kelompok kedua menduduki beberapa jabatan kementerian sebagai berikut: (1) hakim, (2) pejabat pendidikan (Dar al-Hikmah), (3) inspektur pasar yang bertugas menertibkan pasar dan jalan (4) pejabat keuangan (5) pembantu istana (6) petugas pembaca Al-Qur’an.[3]


Bidang kemeliteran dalam Dinasti Fatimiyah terdapat tiga jabatan pokok, yaiitu: (1) amir yang terdiri pejabat-pejabat tinggi militer dan pegawai khalifah, (2) petugas keamanan dan (3) berbagai resimen. Pusat armada laut dibangun di Alexandria, Damika, Ascaton dan beberapa di pelabuhan Syiria, masing-masing di kepalai seorang Admiral tinggi.[4]
2.        KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN
            Ibnu Killis adalah seorang tokoh dan pelopor perkembangan pendidikan pada masa pemerintahan Fatimiyah di Mesir, ia mendirikan sebuah universitas dan menghabiskan ribuan dinar untuk membiayai setiap bulannya, di bawah kekuasaannya lahirlah seorang dokter yang terkenal yang bernama Muhammad al-Tamim, ia lahir di Yerussalem dan pindah ke Mesir sekitar tahun 970.[5] Salah satu hal yang terpenting yang dibangun Dinasti Fatimiyah adalah pembangunan Dar al-Hikmah (rumah kebijaksanaan) atau Dar al-Ilm (rumah ilmu) yang didirikan oleh al-Hakim sebagai pusat pembalajaran dan penyebaran ajaran Syi’ah ekstrim. Hakim membarikan dana 257 dinar ang digunakan untuk menyalin naskah, memperbaiki buku dan pemeliharaan umum lainnya. Gedung ini dibangun berdekatan dengan istana kerajaan yang di dalamnya terdapat sebuah perpustakaan dan ruang-ruang pertemuan, kurikulumnya meliputi kajian tentang ilmu-ilmu keislaman, astronomi dan kedokteran.[6]
Kebijakan pemerintahan Hakim ini membawa dampak positif bagi Dinasti Fatimiyah, hal ini terbukti dengan lahirnya astonom paling hebat yang pernah dilahirkan Mesir dan Abu Ali al-Hasan (bahasa latinnya Alhasen). Juga ibn Haitsam yang merupakan peletak dasar ilmu fisika dan optik, ia menulis tidak kurang dari seratus kitab, yang meliputi bidang matematika, astronomi, filsafat dan kedokteran, karya terbesarnya yaitu Kitab al-Munazhir mengenai ilmu optik.[7] Ilmu lain yang berkembang salah satunya yaitu  ilmu Sejarah, melahirkan beberapa tokoh seperti Abu Hasan Ali Syabasyti, Abu Shaleh Armani, Muhammad bin Abu Qasim Al Masbaji, Usamah bin Munqiz.[8]
3.        PERKEMBANGAN SENI DAN ARSITEKTUR
Selain ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, Dinasti ini juga diwarnai dengan munculnya sejumlah karya penting dalam bidang seni dan arsitektur. dinasti Fatimiyah dikenal sebagai produsen keramik. Detailnya bernama keramik Lusterware, yakni keramik dengan lapisan metalik yang memberi efek warna. Pada masa itu, keramik atau porselin jenis itu diproduksi di Mesir.[9] Seni keramik pada masa Dinasti Fatimiyah mengikuti pola-pola Iran, pola Iran ini banyak digunakan dalam produk tekstil dengan motif binatang. Seni penjilidan buku  juga tidak kalah penting, menurut Pillip. K. Hitti, seni penjilidan buku di dunia Islam yang paling pertama dikenal datang dari Mesir sekitar abad kedelapan atau Sembilan, teknik dan dekorasi yang indah dengan daya tarik seni penjilidan koptik serta menjadi patokan keahlian menjilid.[10]
Berbagai macam bangunan megah dengan gaya arsitektur yang tinggi, menggambarkan bahwa Fatimiyah mengalami kemajuan dalam bidang arsitektur, hal ini dibuktikan dengan masjid al-Azhar yang didirikan oleh Jawhar pada tahun 972, masih bertahan hingga saat ini. Masjid al-Hakim yang dibangun oleh ayahnya pada 990, yang selesai sekitar tahun 1012, masjid ini mengikuti rancangan yang sama dengan masjid al-Azhar dan mempunyai kopula dari tembok yang menyokong sebuah tambur besar berbentuk segi delapan diatas ruangan salat. Masjid al-Aqmar dengan bangunan cirikhas arsitektur Islam yaitu ceruk (muqarnas) stalaktit. Tiang masjid ini dan masjid Shalih ibn Ruzzik (sekitar 1160) menampilkan disain kaligrafi bergaya kufi yang kubus serta pintu-pintu gerbang besar yang megah yang masih bertahan hingga saat ini, antara lain: bab zawilah, bab al-Nashr dan bab al-Futuh.[11]
B.       RUNTUHNYA DINASTI FATIMIYAH DAN SEBAB-SEBABNYA
Kemunduran Dinasti Fatimiyah berawal pada pemerintahan Khilafah al-Hâkim. Ketika diangkat menjadi khalifah ia baru berumur 11 tahun. Al-Hâkim memerintah dengan tangan besi, masanya dipenuhi dengan tindak kekerasan dan kekejaman. Ia membunuh beberapa orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja kristen, termasuk sebuah gereja yang di dalamnya terdapat Kuburan Suci umat Kristen. Maklumat penghancuran Kuburan Suci ini ditandatangani oleh sekretarisnya yang beragama Kristen, Ibn Abdûn. Peristiwa ini merupakan salah satu penyebab terjadinya Perang Salib. Ia memaksa umat Kristen dan Yahudi memakai jubah hitam, dan mereka hanya diperbolehkan menunggangi keledai.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani dibunuh dan aturan-aturan tidak ditegakan dengan konsisten.  Ia juga dengan mudah membunuh orang yang tidak disukainya, bahkan pernah membakar sebuah desa tanpa alasan yang jelas. Kemudian pada tahun 381 H / 991 M ia menyerang Aleppo dan berhasil merebut Homz dan Syaizar dari tangan penguasa Arab. Peristiwa  ini menimbulkan sikap oposan dari penduduk dan menyeret  Daulah Fatimiyah  dalam konflik dengan Bizantium. Walaupun pada akhirnya al-Hâkim berhasil mengadakan perjanjian damai dengan Bizantium selama sepuluh tahun.[12] Al-Hâkim kemudian digantikan oleh az-Zâhir, anaknya sendiri. Ketika diangkat menjadi khalifah ia baru berumur 16 tahun. Khalifah ini mendapat izin dari Konstantin ke VIII agar namanya disebutkan dimasjid-masjid yang berada di bawah kekuasaan sang kaisar. Ia juga mendapat izin untuk memperbaiki masjid yang berada di Konstantinopel. Ini semua sebagai balasan terhadap restu sang khalifah untuk membangun kembali gereja yang didalamnya terdapat Kuburan Suci.[13] yang dihancurkan oleh al-Hâkim.


Setelah meninggal az-Zâhir kemudian digantikan oleh anaknya sendiri yang baru berusia 11 tahun, yaitu al-Mustanshir. Mulai masa ini sistem pemerintahan Dinasti Fatimiyah berubah menjadi parlementer, artinya khalifah hanya berfungsi sebagai simbol saja, sementara pemegang kekuasaan pemerintahan adalah para mentri. Oleh karena itulah masa ini disebut “ahdu nufuzil wazara” (masa pengaruh mentri-mentri).[14] Di masa ini terjadi kekacauan dimana-mana. Kericuhan dan pertikaian terjadi antara orang-orang Turki, suku Barbar dan pasukan Sudan. Kekuasaan negara lumpuh dan kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun telah melumpuhkan perekonomian negara.
Tahun-tahun terakhir dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah ditandai dengan munculnya perseteruan yang terus menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya masing-masing. Setelah al-Mustanshir wafat, terjadi perpecahan serius dalam tubuh Ismailiah. Perpecahan itu terjadi antara dua kelompok yang berada di belakang kedua anak al-Mustansir yaitu Nizar dan al-Musta’li. Pendukung Nizar lebih aktif, ekstrim dan menjadi gerakan pembunuh. Sedangkan pendukung al-Musta’li lebih moderat. Akhirnya yang terpilih menjadi khalifah adalah al-Musta’li karena ia didukung oleh al-Afdhal. Al-Afdhal mendukung al-Musta’li dengan harapan ia akan memerintah dibawah pengaruhnya. Akan tetapi basis spiritual Ismailiah menjadi runtuh.
Setelah al-Musta’li wafat, al-Amin, anak al-Musta’li yang baru berumur lima tahun diangkat sebagai khalifah. Al-Amin kemudian   digantikan oleh al-Hafidz. Ketika ia meninggal kekuasaannya benar-benar hanya sebatas istana kekhalifahan saja. Al-Hafidz digantikan oleh anaknya, az-Zhafir (1149-1154) yang  diangkat menjadi khalifah dalam usia yang masih sangat muda, Merasa tidak mampu menghadapi tentara salib, khalifah az-Zafir melalui wazirnya Ibnu Salar, meminta bantuan kepada Nuruddin az-Zanki, penguasa Suriah di bawah kekuasaan Baghdad. Nurudin mengirim pasukannya ke Mesir di bawah panglima Syirkuh dan Salahuddin Yusuf bin al-Ayubi yang kemudian berhasil membendung invasi tentara salib ke Mesir. Kemudian, kekuasaannya direbut wazirnya, Ibnu Salar, yang menyebut dirinya sebagai al-Malik al-Adil.[15] Ibnu Sallar kemudian dibunuh oleh istri cucunya, Nashr ibnu Abbas[16] dan az-Zafir juga terbunuh secara misterius.
 Kemudian naiklah al-Faiz, anak az-Zhafir yang baru berusia empat tahun, sebagai khalifah. Khalifah kecil ini meninggal dalam usia 11 tahun dn digantikan oleh sepupunya al-Adhid yang baru berumur sembilan tahun. Kehidupan masyarakat sangat sulit, bencana kelaparan dan wabah penyakit yang sering terjadi, akibatnya pajak tinggi dan pemerasan umum terjadi untuk memuaskan kebutuhan khalifah serta angkatan bersenjatanya yang rakus. Keadaan semakin parah dengan datangnya pasukan perang salib dan serangan balasan dari Almaric, raja Yerussalem, yang pada 1167 telah berdiri di pintu gerbang Kairo. Keadaan ini diakhiri oleh Shalal al-Din menurunkan khalifah Fatimiyah terakir dari tahtanya pada tahun 1171.[17] kemudian digantikan oleh Dinasti Ayubiyyah.[18]
Secara garis besar, sebab-sebab kehancuran Dinasti Fatimiyah antara lain:
v  Munculnya perebutan kekuasaan dan pengaruh tingkat elit birokrasi. Hal ini di sebabkan karena kelemahan khalifah dan kuatnya orang-orang disekitar khalifah, bahkan merekalah pengendali pemerintahan sebenarnya.
v  Perpecahan dalam militer, perpecahan ini karena berebut pengaruh dan lemahnya penguasaan atas beberapa fiksi militer oleh khalifah.
v  Perpecahan internal kalangan Ismailiyah, sepeninggalan al-Muntasir, timbulnya keretakan Ismailiyah karena cabang-cabang radikal politik, eskatologis, mesianik dan missionaris dari gerakan Ismailiyah terbentuk cabang-cabang sendiri.[19]


[2]. G.E. Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, (Bandung: Mizan, 1993), hal. 71
[3]. Samsul Munir,Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta: Amzah, 2009), hal. 264
[4]. Ibid, hal. 264-265
[5]. Pillip. K. Hitti, History of the Arabs, hal. 800
[6]. Ibid, hal. 801
[7]. Ibid, hal. 802
[8]. http://one.indoskripsi.com/content/dinasti-fatimiah.
[9].http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2583997536258049771
[10]. Pillip. K. Hitti, History of the Arabs, hal. 806
[11]. Ibid, hal. 804-805
[12]. http://dwisri.multiply.com/journal/item/9/DINASTI_FATIMIYAH .
[13]. Pillip. K. Hitti, History of the Arabs, hal. 793
[14]. http://dwisri.multiply.com/journal/item/9/DINASTI_FATIMIYAH.
[15]. Pillip. K. Hitti, History of the Arabs, hal. 796
[16]. Ibid, hal. 796
[17].  Ibid, hal. 796
[18].  http://dwisri.multiply.com/journal/item/9/DINASTI_FATIMIYAH .
[19]. Drs. H Taufiqurrahman, M.Ag,  Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, (Surabaya: Pustaka Islamika Press,2003), hal. 158-159